Evaluasi Tahun Pertama dan Harapan Tahun Kedua

Tidak terasa kalau 2 semester perkuliahan sudah lewat. Selama tahun pertama ini, banyak sekali pelajaran yang didapatkan dalam menjalani peran sebagai mahasiswa. Bagi saya, semester pertama adalah masa penyesuaian yang berat dan cukup membuat saya merasakan drama kehidupan perkuliahan ūüėā. Pada semester kedua, saya makin memiliki insight mengenai hal – hal apa saja yang bisa dan akan saya lakukan.

Untuk adik – adik SMA yang kebetulan membaca tulisan saya, camkan dalam pikiran kalian bahwa kalian harus memilih jurusan yang memang menjadi passion kalian. That’s the point of entering college and preparing for your future.

Apa yang dipelajari di dunia perkuliahan adalah hal – hal yang sudah terspesifikasi. You shouldn’t go wrong with your choice. Jujur saja, selama berkuliah dua semester ini saya merasa biasa saja. I mean, saya merasa kalau apa yang saya pelajari saat ini tidak benar – benar ‘klop’ dengan minat saya. Mungkin hal tersebut bisa terjadi karena apa yang pelajari saat ini didominasi oleh mata kuliah dasar fakultas yang sifatnya sangat umum.

Sewaktu SMA, mata pelajaran yang paling membuat saya terpacu adalah biologi, kimia, dan matematika. Di pelajaran Fisika saya tidak begitu minat. Nilai saya pun tidak ‘Wow’, yang penting tidak pas kkm saja.

Untuk pelajaran kimia… saya sangat perfeksionis di pelajaran kimia. Hal itu tidak baik dan saya mau menghindarinya. Namun dibalik itu semua, mata pelajaran ini adalah mata pelajaran pertama yang membuka mata saya tentang betapa menariknya ilmu pengetahuan. Tahukah kalian bahwa berbagai zat memiliki warna api yang berbeda – beda ketika dilakukan reaksi pembakaran? Atau, tahukah kalian bahwa ada zat yang mengeluarkan bau harum, namun ketika senyawa kimia zat tersebut diurai malah akan mengeluarkan bau busuk. Atau tahukah kalian bahwa bahan plastik bisa dirancang lebih kuat dari besi. ¬†Belajar kimia itu menyenangkan!

Mata pelajaran yang paling saya nikmati ¬†adalah pelajaran biologi. Saya menikmati setiap waktu saya mempelajari apa yang ada di dalamnya. Biologi itu… Keajaiban Tuhan yang paling misterius dan berbahaya. Siapa yang bisa memecahkan misteri darimana makhluk hidup berasal? Berbagai pertanyaan lain pun sangat menarik minat saya seperti, apa yang menyebabkan sel – sel berdiferensiasi dan terspesialisasi pada waktu tertentu ? Mengapa vaksin sangat ampuh melindungi manusia dari intervensi virus dan bakteri? Mengapa makhluk hidup bisa bermutasi? Dan berbagai pertanyaan hebat lainnya.

Selain itu, saya juga suka matematika. Kalau di kuliah, matematika terbagi lagi dengan sebutan kalkulus, Aljabar Linear, statistik dan probabilitas, dll. Walaupun hanya utak Рatik angka, tetapi dapat menghasilkan hal yang hebat dan berguna.  Matematika itu menakjubkan!

Sebuah anomali pada diri saya bahwa  saya tidak memilih  jurusan yang belajar biologi dan kimia. Faktor  apa yang saya pikirkan ketika memilih? THAT F-KING EGO AND PRESTIGE ! Dulu, saya bukan orang yang percaya kalau passion berperan besar dalam keberhasilan seseorang.  Saya juga menyesal kenapa saya baru sadar banyak hal  setelah masuk kuliah. Dan juga, saya yakin teman Рteman lainnya  ada yang mengalami hal yang sama. Saya mau mengulang pun tidak bisa karena dilarang orang tua. Mungkin Tuhan punya jalan lain?

Saya bukan salah jurusan. Saya tidak terima jika dibilang begitu. Disini, saya masih bisa berjalan walaupun dalam benak saya selalu terlintas hal lain; Mungkin jika saya ada di jurusan dan fakultas lain, saya lebih bisa berakselerasi. Tapi saya yakin Tuhan punya rencana  yang baik untuk saya.

Jadi, apa yang  yang akan saya lakukan selanjutnya ? Saya akan berusaha untuk bergabung di wadah  yang cocok dengan minat saya. Saya pun tidak mau menutup diri terhadap pelajaran Рpelajaran baru yang akan saya pelajari nanti. Saya hanya orang yang kurang berpengalaman. Namun saya yakin, banyak jalan menuju mimpi. Saya dan orang lain berasal dari tempat yang berbeda, melalui berbagai peristiwa yang berbeda, memiliki pergumulan masing Рmasing, namun bisa saja sampai di muara yang sama. Saya sendiri sudah membuat rincian langkah kongkrit yang harus saya lakukan untuk mengapai apa yang saya cita Рcitakan . Apapun itu, yang penting saya sudah berusaha. Berhasil atau tidaknya itu urusan Tuhan. I will achieve what I aim if only He has made it into my fate. 

‚ÄúIn him we were also chosen, having been predestined according to the plan of him who works out everything in conformity with the purpose of his will, in order that we, who were the first to put our hope in Christ, might be for the praise of his glory” (Ephesians 1:11-12).

XOXO 

Yolanda Natalia

 

Dari Ratusan Menuju Satuan

Tiga¬†tahun yang lalu, gue ini seorang anak SMA jurusan IPA yang enggak punya motivasi untuk sekolah.¬† Keputusan untuk sekolah di SMA dan Jurusan IPA diambil oleh orang ‚Äď tua. Di lubuk hati yang terdalam pengen rasanya masuk SMK jurusan DKV dan kerja jadi desainer grafis. Gue selalu menjelek ‚Äď jelekan SMA kalau ada orang yang meragukan pilihan gue untuk masuk SMK. Namun, takdir berkata lain. Gue lolos masuk SMA lewat jalur lokal. Sekarang rasanya gue kayak menemukan harta karun yang terpendam dari dalam diri sendiri.

‚ÄúIni cerita Yolanda Natalia dan bagaimana Ia bisa lolos SNMPTN UI – Teknik Industri‚ÄĚ

Ya, inilah gue setelah 3 tahun melewati masa SMA dengan penuh rasa. Dari ranking ratusan hingga ranking 1 digit angkatan udah gue rasain. Dari yang tadinya hampir tinggal kelas hingga lolos SNMPTN ke UI juga udah gue rasain. Mungkin kata ‚Äď kata gue terdengar lebay?

Saat baru masuk SMA, gue bener ‚Äď bener bingung dengan apa yang harus gue lakukan, yang harus gue capai, dll karena gue ditempatkan di SMA IPA bukan berdasarkan kehendak gue. Nilai ancur, kalo kerja kelompok jadi orang gabut, dan saat ulangan nggak pernah belajar karena nggak ada motivasi. Mungkin sebagian orang memaklumi karena banyak yang bilang masa ini adalah masa penyesuaian. Ini bener ‚Äď bener membuat gue terjebak dalam zona nyaman tanpa rasa ingin bangkit.

Tapi ajaibnya gue bukan orang yang sering nyontek dalam ulangan (kalo PR waktu itu masih hehehe), mungkin karena gue udah pasrah dan nggak peduli dengan nilai gue. Gue pernah menghadapi suatu ulangan dan temen ‚Äď temen sebelah gue nyontek. Gue penasaran lah! Akhirnya gue ikut ‚Äď ikutan. Saat nilai gue dibagikan, tetep aja nilai gue itu jelek. Itulah yang membuat gue sadar bahwa nyontek ‚Äď nggak nyontek, tetep aja nilai gue jelek.

Apakah gue tetap terus seperti itu? Kenyataannya, Pencipta nggak mau gue memiliki lebih banyak penyesalan ketika gue besar nanti. Turning point gue adalah setelah UTS Semester 2. Dibawah ini adalah ‚Äúpupuk kompos‚ÄĚ yang membantu gue berubah 180ŠĶí.

‚Äú Nak, kamu itu memang nggak ada bakat fisikanya, ya…..‚ÄĚ ‚Äď Guru Fisika, setelah gue menyelesaikan remedial kedua kalinya untuk UH gaya dan vektor‚ÄĚan. Believe it or not, saat remedial, gue emang sengaja membuat tulisan gue nggak bisa terbaca karena gue emang ga ngerti sama sekali materinya. Nilai remedial gue saat itu 3 hahaha.

‚Äú Kamu itu kalau begini terus bisa tinggal kelas, tau? Fisika kamu di rapor C+! Coba lihat kalender itu! Kurang dari 1 bulan lagi UAS. Kalau nilai kamu begini terus, kamu benar ‚Äď benar tinggal kelas.‚ÄĚ ‚Äď Guru BK, saat jam pelajaran BK dan ini sesi konseling di depan kelas. Setelah dibilangin kayak gitu gue nangis di kursi. Hahaha….

‚ÄúSi xxxxxxx aja yang nemnya lebih kecil dari kamu, bisa ranking di kelasnya. Kalian kan 1 sekolahan, masa kamu kalah.‚ÄĚ ‚Äď Bokapnya temen gue, saat gue lagi main ke rumah temen gue.

‚Äú Aduh yol, sorry ya. Gue juga lagi butuh buku ini dan butuh konsentrasi buat belajar.‚ÄĚ ‚Äď Temen ‚Äď temen pinter, Saat gue lagi UTS dan minta bantuan mereka buat jelasin materi yang nggak gue bisa. Dari raut mukanya, mereka keliatan terganggu dengan kehadiran gue. Disini gue merasa ga guna sama sekali.

Sebenarnya di UTS semester 2 ini, gue serius belajar untuk pertama kalinya. Gue mencoba belajar, kerjain soal, dan pede bakal dapet nilai bagus. Tapi kenyataannya……. Nggak ada perubahan yang signifikan bila dibandingkan dengan nilai ‚Äď nilai yang dulu. Disini gue nge-down sebentar. Gue penat. Capek rasanya menjadi orang bodoh( padahal gue nggak ngapa ‚Äď ngapain yakk hahahaha). Gue ngeliat temen ‚Äď temen yang lain kok pinter ‚Äď pinter banget ya? jago pelajaran, ikut olimpiade,dll. Sedangkan gue? dapet nilai 7 di UH aja susah.

Dan disaat itulah keajaiban muncul. Tiba ‚Äď tiba gue flashback ke momen ‚Äď momen dimana gue merasa berharga dan punya otak untuk berpikir.

  • Momen disaat gue bisa menjelaskan tentang inti dari pelajaran fisika. Jawaban gue itu berdasarkan pandangan gue sendiri dan gue senang dengan apresiasi pembimbing atas jawaban gue.
  • Momen disaat gue bisa dapet nilai 85 untuk ulangan geometri 3D essay 4 soal dari guru killer yang rata ‚Äď rata manusia di kelas pada remed (tapi ada juga yang dapet 100). Gue nggak belajar sama sekali. Gue emang paling seneng geometri karena nggak banyak hapalan. Sisanya, MTK gue ya….. mi fa sol la.
  • Momen disaat gue mikir kenapa rumus – rumus fisika kayaknya instan banget, sehingga gue ga bisa paham dengan fisika. ( gue baru paham asal usul rumus saat dijelasin dengan kalkulus. logika gue ngena bor! ).
  • Momen kuis pertama kelas seni musik. Nanti kita dikasih nada dasar do, terus guru bakal mencet nada lain. Nah… kita disuruh nebak itu nada apa. Ada 100 kali pencetan. GUE DAPET 100 dan gue dikira les piano ( yang dapet 100 cuma gue dan 1 temen yang jago main piano, bahkan yang sering main gitar aja nggak nyentuh angka 90 ). Gue nggak pernah les piano, bisanya cuma main pianika dan rekorder bekal pelajaran SD.
  • Momen disaat gue bisa mengimajinasikan roti kismis, tembakan tembakan sinar alfa beta gamma saat ada cerita asal usul model atom. Kimia adalah favorit gue.
  • Momen disaat ada cogan yang numpang nanya sama gue /eaa/bercanda.

Kedengeran aneh dan nggak danta kan? TAPI ITU SEMUA MENGHASILKAN KEAJAIBAN. Kok bisa? Karna saat itu gue menyadari, bahwa sesungguhnya gue punya potensi dan punya rasa ingin tahu tentang apa yang sedang gue pelajari disekolah. Yaa, walaupun cuma secuil, tapi gue yakin gue bisa dan gue harus mencoba.

Jadi, saat itu juga gue pulang kerumah sambil setengah nangis. Dalam hati gue bulatkan tekad buat berubah. Gue puasa browsing hal ‚Äď hal yang nggak bermanfaat, belajar dari jam 2 siang sampai jam 8 malam untuk nyicil materi, dll. Gue memang merasa pegel ‚Äď pegel dan migrain saat belajar. Anehnya, seperti ada sesuatu yang menggerakan gue untuk terus belajar. Jantung gue terus berpacu dan gue terus tertantang menyelesaikan soal ‚Äď soal dari buku. And,you know what? Nilai UAS gue seperti roket NASA yang melesat!!!! Nilai kimia yang tadinya 50 di UAS semester 1 dan terendah seangkatan, berubah jadi 100 di UAS semester 2 dan di kelas cuma gue yang dapet 100. Untuk pertama kalinya gue dapet 87 untuk fisika. Nilai matematika, biologi, dan lain lain pun memuaskan. Thanks to GOD!

Dan mental seperti ini berlanjut hingga gue kelas 2. Gue jadi orang yang rajin dan nggak pernah merasa puas. Di kelompok, gue selalu ingin maksimal mengerjakan tugas. Walau pelajaran kelas 2 nggak sesederhana pelajaran kelas 1, gue nggak mau menyerah! Bukan berarti gue langsung jadi ranking 1 ya. Dikelas 2 pun bukannya gue nggak pernah dapat nilai jelek lagi. Semua ada prosesnya, perlahan tapi pasti.

yuyu

Di semester awal, nilai rapor yang nembus 80-an itu dikit banget. Nilai 70-an pun gue dapet sebagai nilai “kasihan”. Puji Tuhan nilai gue naik. Rahasia buat maintain nilai supaya naik terus dan stabil? efek Growth Mindset! Bagi yang belom tau, gue rasa lo harus baca artikel zenius ini. Gue serasa ingin terus dan terus mencoba. Euforia yang lo rasakan saat lo selesai memecahkan satu soal yang belom pernah lo kerjain sebelumnya adalah sesuatu yang bikin nagih. Gue semakin berkembang.

Menjalani 3 tahun melukis grafik kayak gitu bukannya tanpa cobaan. Gue mengalami banyak jatuh bangun. Khususnya pada awal – awal kelas 3, gue memiliki cara pandang yang hitam putih terhadap orang lain. Gue jadi suka nge-judge orang lain berdasarkan prasangka yang belom tentu bener. Hal ini merupakan efek dari melihat kelakuan anak ‚Äď anak yang suka nyontek di sekolah. Banyak anak ‚Äď anak yang kepengen lolos lewat jalur yang namanya SNMPTN, diantaranya ada yang nggak jujur dan menghalalkan segala cara supaya nilai semester akhir mereka melonjak drastis.

Mungkin gue bukan orang satu – satunya yang terusik¬†akan hal ini.¬†Penghargaan yang mereka dapatkan bisa melebihi orang lain yang berjuang lebih keras. Nilai gue pun sering kalah sama mereka. Inilah titik lemah gue, mudah terpengaruh lingkungan. Saat belajar, gue malah jadi stress sendiri dan nggak enjoy karena tujuan gue belajar adalah supaya nilai gue bisa mengalahkan anak yang curang tadi. Ujung ‚Äď ujungnya, gue ngedown lagi. Ini semua karena ego dan gengsi. Nah…. jadi melenceng dah tuh¬†dari tujuan utama gue belajar yaitu tentang pengembangan diri. Namun, ¬†gue pun sadar dan merefleksikan hal ini. Segala sesuatu yang membuat gue gelisah,¬†gue serahkan saja sama yang Maha Kuasa.

Seiring berjalannya waktu, gue pun kembali fokus. Kelas 3 ini adalah saat ‚Äď saat paling melelahkan! Di awal semester, gue daftar les dan beli Zenius Xpedia untuk ngebantu pahamin materi. Step belajar gue adalah,

  1. Pengenalan materi. Jangan harap bisa sekali ngerti dari sekolah, apalagi buat SBMPTN. Disini gue pake zenius Xpedia buat ngeliat materi. Enaknya adalah gue bisa replay berkali ‚Äď kali dan penjelasannya itu SUPER DUPER banyak! Dijelasin mulai dari yang paling sederhana hingga tingkat advance, penjelasan asal usul rumus dan motivasi pun ada. Temen baik gue banget deh saat belajar hingga lewat tengah malam. Kalau kurang jelas, tinggal cari refrensi di google deh!
  2. Ngerjain soal. Bank soal gue adalah Zenius, buku ‚Äď buku les, dan internet. Pertama, gue kerjain dulu soal ‚Äď soal per bab dari zenius karena ada video pembahasannya. Setelah paham, gue coba kerjain kapselnya dan soal ‚Äď soal campuran di buku.
  3. Karena di Zenius nggak bisa tatap muka langsung, gue ke tempat les untuk diskusi 2 arah. Jujur aja, gue daftar les cuma untuk konsulnya. Gue jarang masuk kelas, tapi seminggu bisa sampai 4 kali konsul.

Di kelas 3 gue terus belajar hingga lembur. Seringnya, paling cepet gue tidur jam 9¬†malam dan paling lama jam 2 malam ( tapi jarang – jarang ). Kedengeran lebay? maklumin aja, gue bukan anak yang terlahir jenius sehingga butuh effort lebih buat ngerti pelajaran. Saat weekend, yang gue lakukan adalah antara tidur seharian, namatin video – video zenius, atau minta konsul. Makin paham, ngerjain soal ‚Äď soal, ulangan, dan praktek pun makin terbantu. Hasilnya? Manis banget! Berkat doa, usaha, dan berserah, gue ranking 3 angkatan di semester 5!

Tak terasa, gue sudah sampe di semester 6 dan harus mengisi form SNMPTN. Untuk kuliah, gue pengen banget masuk FTI ITB. Gue pengen  masuk jurusan Teknik Industri. Untuk pilihan lainnya, gue pengen Teknik Industri UI. Apa yang membuat gue tertarik dengan jurusan ini? jawabannya adalah karena program ini mengajarkan banyak ilmu ( nggak hanya terfokus pada satu bidang ) dan ilmu Рilmu tersebut memang dirancang lebih aplikatif. Istilah lainnya yang dipakai di luar negri yaitu Management Engineering atau Industrial and System Engineering. Saat gue liat silabus & kurikulum Teknik Industri di dua universitas tersebut, hati gue berdebar Рdebar seakan bertemu jodoh /wkwkwkkwk/.

Di Indonesia, mungkin jurusan ini kurang populer dibanding teknik yang mengarah pada mineral and mining, dan begitu pula kalau dibandingkan dengan teknik Рteknik lain ( elektro, mesin, komputer, dll). Hal tersebut dikarenakan Indonesia adalah negara berkembang. Fokus utama pemerintah masih dalam lingkup pembangunan infrastuktur dan pemerataan pendidikan. Tapi, bukan berarti lulusan TI nggak dilibatkan sama sekali ya.

Di luar negri, khususnya negara maju, jurusan Рjurusan semacam ini merupakan jurusan yang tergolong prestigious. Ambil aja contoh terdekat yaitu NTU dan NUS yang ada di Singapura. NUS punya Industrial and System Engineering Programme yang standar masuknya termasuk sulit diantara program teknik lainnya ( cek disini ) dan NTU punya Reinassance Engineering Programme, satu program elite yang tergolong baru dan punya standar tinggi ( cek disini , dan disini). Kalau masih nggak percaya, coba deh liat survey yang diadakan di Singapura ini. Agak melenceng sih, hehehehe, wong gue tinggal di Indonesia kok. Tapi ambil positifnya aja. Gue pengen jadi pengusaha dan membuka lapangan kerja. Gue pengen campur tangan dalam memajukan perekonomian di Indonesia ini.

Seorang lulusan Teknik Industri memegang peranan besar dalam me-manage sistem perindustrian. Di UI, jurusan TI belajarnya fisika, aljabar, probabilitas, ekonomi, dan sisanya banyak banget mata kuliah yang asing di telinga gue. TI tuh bener Рbener ilmu yang interdisiplin deh! Gue pun jadi benar Рbenar tertarik dan termotivasi untuk masuk Teknik Industri.

ie (1)

sumber : http://www.transtutors.com/homework-help/industrial-management/industrial-engineering/industrial-engineering.aspx

Dan alasan gue pengen masuk¬†ITB? ya sepertinya lo semua udah pada tau lah ya kenapa. Alasan gue memilih UI pun juga demikian. Namun, kabar buruk datang. Mama melarang gue kuliah di ITB karena ITBjauh dari rumah. Aslinya gue pengen banget FTI ‚ÄďITB, tapi mau gimana lagi? Imunitas gue lemah sejak kecil ( dan sampe sekarang pun begitu). Makan Es krim sekali aja langsung radang, makan makaroni seribu-an yang biasa ada di kantin langsung bikin radang plus pusing. Pernah beberapa kali kejadian lagi naik motor ke depan gang buat jajan eh tiba – tiba pusing. Itu aja masih mending karena penyakit bengek¬†gue udah ilang. ¬†Dulu, gue rutin terapi uap ke RS.¬†Sekarang asma gue jarang banget kambuh dan ga butuh¬†bawa inhaler kemana – mana. Huhuhuhu….. bersyukur deh buat kalian – kalian yang jarang sakit. Karena itulah mama gue ngelarang banget gue pergi jauh – jauh. Gue sedih meratapi kartu SNMPTN gue karena¬†nggak tercantum¬†FTI – ITB diantara daftar pilihan. Diantara 3 pilihan, gue cuma tulis satu -satunya yaitu¬†Teknik Industri – UI.¬†gue hanya memilih Teknik Industri UI.

Jujur aja, gue sebenarnya dari awal nggak terlalu mengharapkan lolos SNMPTN. Hal ini dikarenakan :

  • Pada SNMPTN tahun gue, kita disuruh melampirkan nilai rapor semester 1 ‚Äď 5. Di rapor semester 1, fisika gue C+. Kimia MTK Biologi pun hanya B-, tak terkecuali pelajaran sisanya. Intinya, rapor semester 1 gue menengah kebawah.
  • Kans untuk lolos SNMPTN ke FTI ‚Äď ITB dan Teknik Industri UI dari sekolah gue kecil, hanya 0 – 1 -2 orang
  • Kalau gue nggak lolos SNMPTN, Ortu ngebolehin gue¬†milih FTI ‚Äď ITB untuk SBMPTN!!!!
  • Anak peraih ranking 1 angkatan di sekolah gue milih Teknik Industri – UI juga (ini sebenarnya kabar bagus karena memperkecil peluang gue lolos SNMPTN)

Sembari menunggu pengumuman SNMPTN, gue terus berdoa untuk yang terbaik. Gue lanjut belajar pake ¬†Zenius & buku soal ‚Äďsoal yang gue punya. Di kelas 3, gue hanya ikut les selama 1.5 semester ( gue keluar sebelum intensif UN ) karena keluarga butuh uang untuk¬†kelulusan abang gue di sekolah swasta. Untuk itu, gue nyari materi tambahan pengganti les. Gue download ppt dan pdf bahan ajar kuliah.

Hingga pada akhirnya pengumuman tiba, dan gue dinyatakan lolos SNMPTN Teknik Industri ‚Äď UI.

yasu

Di satu sisi lega rasanya, berterimakasih karena perjuangan gue berbuah manis. Tapi disisi lain, gue sedikit menyesal karena gue nggak memilih almamater impian. Temen gue yang beda sekolah ada yang serupa dengan gue. Dia dilarang untuk kuliah keluar daerah oleh orang tuanya. Bedanya, dia nekad untuk tetap memilih pilihan pertamanya sedangkan gue nggak. Dia pun lolos SNMPTN ke STEI РITB. Butuh waktu untuk bisa mengikhlaskan almamater impian tersebut. Disini gue kedengeran kurang ajar ya? Hal ini jangan ditiru, hahahaha.

Nyatanya, lolos SNMPTN di UI adalah suatu anugrah yang nggak semua orang bisa rasakan. Temen – temen gue yang lain bahkan susah banget buat lolos PTN. Apakah gue masih menyesal sekarang? Tentu saja tidak. Gue bersyukur bisa diberi kesempatan istimewa untuk kuliah di Indonesia yang notabene masih sedikit remaja yang bisa merasakan kuliah. Sisa ‚Äď sisa hari pun gue gunakan untuk membantu teman ‚Äď teman belajar menghadapi SBMPTN dan UM lainnya.

Kalo gue inget – inget lagi selama 3 tahun ini, rasanya sulit dipercaya. Gue si anak bodoh yang nggak punya motivasi belajar karena merasa salah jurusan dan hampir nggak naik kelas, kini bisa lolos SNMPTN ke Teknik Industri UI dan membantu teman ‚Äď teman yang ada kesulitan dalam pelajaran.

Untuk adek ‚Äď adek kelas, jangan pasrah aja dan berpikir bahwa kalian itu bodoh! Gue adalah contoh kecil pembuktian sebodoh ‚Äď bodohnya manusia, kalo dia udah sadar diri bahwa dia punya potensi untuk berkembang dan juga berusaha, maka dia bakal jadi berhasil! Jangan lupa berdoa dan bangun rasa percaya diri lo! Kini giliran elo yang membuktikan.

 

 

FIRST POST : Kuliah

I’m not in¬†high school anymore. Finally.

I’m gonna share a little (long) story about high school life and about the struggle of choosing the best of the best university for me.

Let’s get it started!

Awal masuk sma adalah sesuatu yang sangat hancur parah. Masuk SMA itu keinginan orangtua gue. Diawal pendaftaran pun gue selalu ngomong ke orang Рorang kalo gue bakal masuk SMK jurusan DKV dan selalu menjelek Рjelekan SMA ( I was so dumb that time *cry* ) dan pada akhirnya gue kemakan omongan sendiri.

Welcome to 48 SHS. Gue nggak menyangka kalau gue masuk MIA ( waktu itu tau masuk MIA/IIS dari surat yang dibagi di hari terakhir MOS ).

Semester 1 gue hancur parah hahahaha. Pada dasarnya gue tidak menerima kenyataan untuk masuk SMA. Semuanya gue lakukan dengan abal Рabal. Remed, Remed, Remed. Bahkan gue sering sengaja bikin tulisan di ulangan jadi jelek banget biar guru ga bisa baca karna gue emang tidak mengerti apa Рapa. Even my Physics teacher told me that I have no talent in natural science. /cry/.

In the beginning of 2nd semester,¬†everything was the same. Nilai hancur, males – malesan. Tiba – tiba¬†setelah midtest guru BK manggil satu – satu anak yang bermasalah. I’m one of them. Gue dimarahin ( lebay, sebenernya cuma dinasihatin ) dan doi bilang kalau gue ga berubah, gue bisa nggak naik kelas. Emang sih, rapor semester 1 gue bukan rapor yg enak dipandang mata. Untuk mapel IPA ¬†terendah C+ di fisika, dan nggak ada yang nyentuh B+. But I got A for arts. Hasil midtest pun mengecewakan. Sebenarnya untuk UTS ini gue udah berusaha belajar tapi nilai kok tetep aja stagnan *cry*. Gue hopeless dan nyerah. Balik lagi ke guru BK, sampe sampe gua nahan air mata karna malu plus kesel. Sip, gue kembali ke tempat duduk dengan perasaan kacau, sebenernya karena nggak terima digertak gitu.

Mulai saat itu ada sesuatu yang menggerakan gue dan gue berani pasang target tinggi. Dalam sekejap gue berubah jadi anak yang rajin total. Gue merasa usaha gue kali ini harus lebih dari persiapan midtest semester 2 dan gue harus buktiin kalo gue ini potensial. Thanks to Jesus karna dia bantu gue bangkit lewat diri gue yang punya gengsi tinggi ini ( Dia selalu punya cara untuk berkarya bahkan lewat kelemahan yang dimilikin anak Рanakya). And you know what? Nilai gue naik melesat di UAS. Bahkan gue dapet 100 untuk kimia padahal UAS semester 1 gue cuma dapet 50 dan gue yang terendah seangkatan.

Sampai seterusnya gue jadi anak seperti ini:

  • Nilai meroket pesat hehehe mama jadi punya sesuatu yang bisa dibanggain pas kumpul – kumpul di arisan.
  • Performa bejalar gue naik terus! Bahkan gue sering belajar lewat tengah malem apalagi pas kelas 12.
  • Ambisius HAHAHAHAHAHA i have to reach the highest scores. Tapi hal ini malah bikin gue jadi nggak-terima-an. Maksudnya, kalo gue lagi drop dan nilai gue jelek gue bakal nggak terima dan terbayang – bayang terus sama hal tersebut sampe 2-4 minggu kemudian (serius!). Oke lambat laun kebiasaan overthinking itu beralih buat kasus lain di poin nomor 4.
  • Caused by a group of cheater di kelas,¬†gue jadi keras kepala dan makin individual terlebih di awal kelas 12 semester 1. Latar belakangnya adalah¬†saat¬†liburan kenaikan kelas. Gue ikut KPU 2015 ( acaranya perkatas hehehe ayo ikutan buat adik – adik rohkris SMA!!) dan gue termotivasi buat komitmen ga nyontek hehehehe. Gue inget di¬†kelas 11 gue pernah ada momen nyontek untuk tugas di sekolah & homework dengan spik” diskusi/kerja kelompok (kalau untuk ujian gue ga pernah berani).Di kelas 12 gue ditempatkan di kelas¬†seperti “itu”, maka gue membangun tembok pertahanan supaya gue tetap megang komitmen gue. It works! TAPI gue malah melenceng dari tujuan awal. Tujuan gue untuk punya kepribadian baik malah berubah kiblat. Gue jadi makin individual, sombong dan merasa ekslusif hahahaha. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Maafin aku ya Tuhan.

Seriously, the 4th point bikin gue bener Рbener pusing. Gue selalu sakit hati jika mereka curang dan dapet nilai tinggi. Gue ini baper. Terlebih kalo ada temen Рtemen gue yang jujur mendapatkan nilai dibawah mereka. Guys, kenapa kalian kuat sekali untuk tidak tersulut amarah hahaha. Gue tau usaha temen Рtemen gue yang jujur lebih keras daripada yang curang. Gue menghadapi itu dengan kekuatan sendiri ( dan emosi yang nggak baik ) tanpa mengandalkan Tuhan.  Gue lupa kalo gue punya pribadi yang lebih besar yaitu Yesus dimana gue bisa bersandar dalam semua pergumulan gue. Untung pada akhirnya gue inget karena diingatkan oleh teman Рteman dekat hehe. Buat yang baca ini, please BIASAIN JANGAN NYONTEK atau KALIAN AKAN MENYESAL jika harus menghadapi berbagai macam tes seleksi universitas.

Tapi, kalo dipikir pikir komitmen itu sebenernya memang bagus. Gue melatih diri gue untuk menghadapi  godaan dunia yang menyesatkan. Gue kebal mencontek dan berusaha menghindari cara curang untuk hal Рhal yang kecil sekalipun. Gue ga berani coba Рcoba main api. Semoga di dunia kuliah dan kerja gue selalu ingat bahwa Tuhan menyertai gue dan tidak tergoda untuk curang. Thanks to Jesus.

Pada akhirnya gue lelah. Gue selalu tekankan ke diri gue supaya jangan peduli dengan apapun di semester 2 karna orientasi gue adalah belajar untuk SBMPTN. Ini benar – benar serius. Harapan gue untuk SNMPTN itu sedikit karena nilai kelas 10 sangat jelek. Gue selalu ngomong ke orang – orang kalo gue pasti ikut SBMPTN. Gue selalu berpikir tes tulis adalah jalur paling terhormat untuk masuk universitas. Jalur tulis sangat objektif. Waktu itu gue punya pikiran kalo gue ga mau disamain sama cheater yang nilai rapornya curang dan lolos undangan ( ini korban cerita orang yg bilang kalau lolos PTN lewat tes tulis lebih terhormat ). Sekali lagi, ini semua karena gue yang gengsian banget!

Jurusan yang gue incer awalnya adalah teknik kimia dengan alasan¬†kalo Tekkim lowongannya banyak dan gajinya juga gede. Namun, gue jujur aja nggak punya¬†alasan yang mendalam¬†sama sekali tentang pilihan gue itu. Dengan mengesampingkan gengsi dan perkataan orang lain, gue memutuskan bahwa gue akhirnya memilih jurusan teknik industri. Teknik Industri itu interdisiplin. Di KPU 2015 ada sesi studi bidang dan mentor gue adalah lulusan tekkim UI ( gue lupa namanya ). Doi bilang bahwa keterampilan yang paling penting dan sulit dipelajari adalah kemampuan bersosialisasi. Nah…. gue juga udah ngeliat kurikulumnya teknik industri di ITB dan UI tuh. Gue dapet ilham bahwa dengan masuk jurusan teknik industri, gue bisa menjadi orang yang dapat melihat masalah secara menyeluruh ( dari berbagai sudut pandang ) dan menyelesaikannya dengan cara yang cerdas ( di TI banyak belajar ilmu sosial¬†padahal dia teknik -..- ). Intinya TI itu nggak berfokus pada satu bidang ilmu aja. Menarik banget kan? apalagi gue cewek dan bosenan orangnya( poin ini ngelantur banget¬†-..- ).

Tempat dambaan gue adalah ITB.

Masuk ITB adalah motivasi besar gue dalam meraih grafik nilai yang memiliki gradien positif. Dari kelas 10 sampe awal kelas 3, gue nggak pernah berpikir untuk masuk DITEMPAT MANAPUN SELAIN ITB. Gue udah kemakan sama brandingnya ITB. Sejak akhir kelas 10 hingga kelas 12 gue punya target masuk ITB. Buat gue, masuk ITB adalah lambang kehormatan dan sebuah pembuktian wakakakkakakakak (lebay kali kau nak).

Tapi semua itu hancur saat negara api menyerang, eh maksud gue saat mama gue bilang nggak setuju.¬†I was shocked! How dare you, Mom? :c Dulu kalo gue bilang “Ma, aku mau masuk ITB.” pasti dibales “Iya, kamu usahain aja.”. I was¬†disappointed. Gue dipaksa masuk¬†UI. Yaaaa, ini semua demi kebaikan gue sih. Dia khawatir kalo gue jauh, gampang stress, sakit, dll. Gue kecoaaa eh kecewa maksudnya. Saat memilih jurusan untuk SNMPTN pun akhirnya gue ngalah dan cuma isi 1 pilihan TI-UI. Yang tadinya semangat belajar perbab buat sbmptn akhirnya gue jeda karena hilang motivasi. I’m so mad!!! Untuk try out sbmptn/un gue ga belajar dan ya hasilnya ga fantastis.

Ternyata ohhhh ternyata, ada temen gue yang nilainya lebih tinggi dari gue apply snmptn TI-UI juga. Perasaan gue campur aduk. Gue marah sama diri sendiri karena gue baru tau itu setelah beberapa minggu (itu pun dikasih tau orang ) dan gue udah buang – buang banyak waktu dengan tidak belajar. Tapi di satu sisi gue senang dan berharap hanya dia yang lolos. Setelah tau itu, mama gue jadi mengijinkan gue milih apapun yang gue mau untuk sbmptn nanti. Kali ini semangat gue meningkat lagi dan gue mulai pompa belajar.

Rintangan¬†nggak sampai situ aja. Di akhir maret gue harus keluar tempat les karena kondisi ekonomi lagi nggak baik banget selama kelas 12. Disaat yang bersamaan mama gue harus biayain kelulusan abang gue (97line) dari smk swasta. But it doesn’t matter at all karena gue memang prefer belajar yang fleksibel ( selama les gue sering banget bolos dan lebih suka minta tambahan) dan untungnya gue sempet beli Zenius di awal kelas 12 ( THANKS zenius udah nemenin kelas 12 gue sampai” nilai gue tinggi banget di semester 5 dan udah nemenin persiapan buat SBMPTN).

Segala urusan sekolah selesai. Gue amazed juga sih sebenrnya  karena nilai US & UN gue lumayan bagus padahal gue nggak belajar keras bgt untuk itu. Untung dulu gue belajar dengan serius hahahaha. Saatnya SBMPTN. Gue belajar dirumah sendiri via zenius dan modul Рmodul bagus yang bertebaran di internet. Aneh banget, saat Рsaat ini gue malah merasa sangat jenuh, gampang marah, sensitif, dan sering moodswing ( udah kayak orang hamil aja -..- ). Di saat Рsaat ini gue sering ngelantur untuk lolos SNMPTN. Tapi mengingat peluang lulus SNMPTN gue kecil karna ada pesaing yang lebih tinggi maka semangat belajar gue muncul lagi. Semangat untuk FTI РITB!

Beberapa hari sebelum pengumuman SNMPTN, gue males belajar. 2 Hari penuh gue hanya nonton dan tidur – tiduran. Gue cuma bisa pasrah sama Tuhan. Ternyata I’m not the only one. Teman – teman gue juga mengalami hal yang sama. Di hari H pengumuman SNMPTN gue cek tepat banget jam 13.00 dan…..

yasu

 

Awalnya gue seneng sampe sempat teriak – teriak. Tapi beberapa saat kemudian ketika gue tau beberapa teman masuk ITB, gue sedih. Di¬†sekolah gue, bahkan¬†ada yang lolos undangan ke STEI, FTTM, dan……. FTI ( walaupun masuknya peminatan teknik fisika). Itu 3 fakultas yang katanya paling susah dan fave. Parah banget!!! Nyesek abis. Bahkan pulang dari KPU 2016 ( gue ikut lagi loh hehehe) gue tantrum dan mama gue bingung. Dia bilang di KPU ada yang mempengaruhi gue jadinya gue ngambek di rumah.

Yaampun, parah banget hahahahaha. Maap yak waktu itu gue khilaf. Gue hanya benar benar…………. Arghhhh. Gimana sih rasanya impian lo bertahun – tahun runtuh seketika :c. Tapi untungnya ada teman – teman yang menghibur dan pengertian. Kalo kalian nggak mengenal dekat gue, gue yakin kalian bakal menilai gue sebagai orang yang nggak bersyukur / nggak tau diuntung. Capek gua sama¬†orang yang bilang kayak gitu and I’m done with it ( waktu itu gue lagi marah – marahnya ). GUE TAU KALIAN PASTI PUNYA IMPIAN KAN? GIMANA KALAU NANTI ( BAHKAN SETELAH SELEKSI SIMAK SBMPTN UTUL DLL) KALIAN NGGAK LOLOS DI TEMPAT IMPIAN? PLEASE UNDERSTAND ME! ¬†GUE BENER – BENER SERIUS UNTUK MENGGAPAI HAL ITU /uhuk/. It hurts so much. (maaf itu capsnya aktif).

Setelah beberapa hari, gue mengkoreksi diri sendiri. Makasih lagi buat temen – temen yang sudah baik hati yang sudah support gue. Gue emang kacau banget sih. Gue sadar gue memang nggak bersyukur hahahaha. Masih untung gue dikasih tempat kuliah yang bagus. Gue tobat dan minta ampun karna keangkuhan gue dan ego gue.

Sekarang gue sudah ditempatkan Tuhan di suatu kapal yang akan gue pakai dalam perjalanan menuju mimpi gue yang selanjutnya. Walau kapal ini bukan kapal impian gue, tapi kapal ini juga bukan kapal kecil dan banyak banget orang berjuang mati Рmatian untuk masuk ke kapal yang gue tumpangi sekarang. Nggak ada gunanya memikirkan hal Рhal yang bukan untuk kita.

Gue sadar kalau hidup itu tidak selalu berjalan sesuai keinginan gue. Menurut gue, FTI ITB bagus dan lebih punya nama dibanding TI UI. Tapi, siapa yang berani jamin kalau dengan masuk FTI ITB gue bisa lebih unggul & berkembang dibandingkan jika gue masuk TI UI??? Nggak ada. Masuknya gue ke UI memang ada dalam rencana Tuhan.

Kini saatnya gue berjuang di Teknik Industri UI dan menjadi yang terbaik. Gue nggak boleh lebay lagi dan harus lebih dewasa dalam mengelola emosi. Gue juga harus lebih peka, merangkul dan nggak sombong. Gue harus tetap berkomitmen untuk jadi orang yang fair play. Gue harus berusaha jadi orang berguna supaya bisa ikut memperbaiki “lobang – lobang di tembok Indonesia”. Semoga nanti bisa¬† belajar jenjang S2 bidang¬†¬†Management Engineering di Amerika ( ini muluk banget wkwkkw). Intinya itu lah, belajar di luar negri. Maka itu, dari awal perkuliahan gue harus mengukir prestasi¬†sebaik mungkin.

 

 

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. – Amsal 16:9

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. – Amsal 19 : 21

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan. РYeremia 29 : 11

 

This is the new stage of my life & I’m gonna live my life to the fullest!!!

xoxoxoxo

Yolanda Natalia